MAKALAH DAMPAK LINGKUNGAN AKIBAT BISNIS PARIWISATA SERTA EFEK LINGKUNGAN EKONOMI PARIWISATA DI MASA PANDEMI COVID-19

 DAMPAK LINGKUNGAN AKIBAT BISNIS PARIWISATA SERTA EFEK LINGKUNGAN EKONOMI PARIWISATA DI MASA PANDEMI COVID-19

Dibuat oleh :

 

Ni Kadek Putri Juniari                                          (1910121005)

Jessika Morisca Katu                                           (1910121008)

Aprilia Maria Lois Abainpah                                  (1910121009)

Ni Luh Asih Ulandari                                           (1910121011)

Putu Dina Clarisa Purnama Sari                            (1910121014)

Salsabillah Nilam Zahra                                       (1910121017)

Ida Ayu Made Ariskayanti                                    (1910121020)

Ni Ketut Lidia Sri Oktaviani                                  (1910121026)

I Putu Aditya pramana                                        (1910121031)

Aldina Putri Mahasanti                                         (1910121035)

Komang Agus Budiyasa                                        (1910121036)

I Made Fery Suryawan                                         (1910121037)

I Kadek Bagus Indra Pramana Putra                      (1910121038)

Gusti Ayu Ade Diah Gamatri                                 (1910121039)

Ni Komang Sri Mas Margayanti                             (1910121042)

I Wyn Suyuda Adhipramana                                 (1910121043)

Ni Made Dwi Gayatri Putri                                    (1910121046)

I Wayan Dedi Arta                                              (1910121374)

 

 

 

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS WARMADEWA

DENPASAR

2021

 


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “DAMPAK LINGKUNGAN AKIBAT BISNIS PARIWISATA SERTA EFEK LINGKUNGAN EKONOMI PARIWISATA DALAM MASA PANDEMI COVID-19”  ini tepat pada waktunya.

Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Dr. Drs. I Wayan Wesna Astara, SH.,MH., M.Hum pada mata kuliah Hukum Kepariwisataan. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan tentang dampak lingkungan akibat bisnis pariwisata bagi para pembaca dan juga bagi penulis.

Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Drs. I Wayan Wesna Astara, SH.,MH., M.Hum selaku dosen mata kuliah Hukum Kepariwisataan yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang saya tekuni.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membagi sebagian pengetahuannya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.

Kami menyadari, makalah yang kami tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan kami nantikan demi kesempurnaan makalah ini.

 

Denpasar, 1 Oktober 2021

 

 

Penulis

  

 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................................ i

DAFTAR ISI..................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN...................................................................................................... 1

1.1.         Latar belakang................................................................................................................ 1

1.2.        Rumusan masalah........................................................................................................... 2

1.3.        Tujuan Penulisan............................................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN………………………………………...……………………………………………..………….3

2.1.        Dampak dari kegiatan bisnis pariwisata terhadap lingkungan............................................. 3

2.2.        Dampak Lingkungan dan Ekonomi Pariwisata dalam Masa Pandemi Covid-19…......……………8

BAB III PENUTUP.......................................................................................................... 12

3.1. KESIMPULAN......................................................................................................... 12

3.2. SARAN................................................................................................................... 12

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................... 13

 


BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Kepariwisataan saat ini sangat ramai dibicarakan orang karena dengan mengembangkan sektor pariwisata maka  pengaruh terhadap sektor lainya sangat besar oleh karena itu permintaan akan pariwisata semakin bertambah seiring  dengan tingkat kebutuhan manusia yang semakin bertambah dari tahun ke tahun.

Dalam GBHN 1999,  termuat bahwa pembangunan kepariwisataan terus di tingkatkan dan di kembangkan untuk memperbesar penerimaan devisa negara, memperluas dan meratakan lapangan kerja, mendorong pembangunan daerah, meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, memperkaya kebudayaan nasional, dan tetap mempertahankan kepribadian bangsa demi terpilihnya nilai-nilai agama, mempererat persahabatan antar bangsa, memupuk cinta tanah air, serta mempertahankan fungsi dan mutu lingkungan.

Perkembangan kawasan pariwisata tentunya tidak tumbuh begitu saja tanpa ada suatu usaha yang dilakukan, oleh karena itu maka ketersedian sarana dan prasarana sangat dibutuhkan untuk pengembangan sektor ini dan agar dapat menjadi salah satu sektor andalan. Namun,  Kualitas lingkungan merupakan bagian integral dari industri wisata. Bagi pengembang dan penyelenggara kagiatan wisata, kualitas lingkungan harus mendapat perhatian utama. Wisata adalah industri yang terkait dengan tujuan wisata dengan karakter-karakter keindahan, keseimbangan, natural, kesehatan, dan kualitas lingkungan yang terjamin. Saat ini, kata “lingkungan” sering muncul sebagai salah satu kunci sukses penyelenggara wisata. Dalam pandangan yang terbatas, terminologi lingkungan banyak mengacu kepada hal-hal fisik alamiah. Misalnya, bentang alam dan komponen fisik buatan manusia, seperti pos-pos pengamatan, kolam renang buatan, atau bangunan-bangunan penunjang aktifitas wisata lainnya. Dalam skala yang lebih luas, faktor sosial dan budaya juga dipertimbangkan senagai lingkungan integral industri wisata. Kualitas lingkungan meliputi kualitan bentang atau pemandangan alamiah itu sendri, yang kualitasnya dapat menurun karena aktifitas manusia. Keindahan dan kenyamanan daerah tujuan wisata, seperti keindahan pemandangan alam, sturuktur hidrologi almiah seperti air terjun dan sungai, air bersih, udara segar, dan keanekaragaman spesies, kuailitasnya bisa memburuk karena aktifitas manusia, tidak terkecuali aktifitas wisata itu sendiri. Menurut hukum permintaan wisata, kualitas lingkungan merupakan bagian integral dari suguhan-suguhan alamiah. Dengan demikian, pemeliharaan terhadap kualitas lingkungan menjadi syarat mutlak bagi daya tahan terhadap kompetisi pemilihan tujuan wisata oleh wisatawan. Jika kualitas suatu daerah tujuan wisata menurun, maka tempat tersebut cenderung diabaikan. Dalam Pandemi Covid-19 ini juga memberikan dampak dalam Sektor Pariwisata maupun itu dalam segi lingkungan dan ekonomi.

1.2  Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah :

1.    Bagaimana dampak dari kegiatan bisnis pariwisata terhadap lingkungan ?

2.    Bagaimana dampak lingkungan dan ekonomi dalam masa pandemi Covid-19 ?

1.3  Tujuan Penulisan

1.    Untuk mengetahui dampak dari kegitan bisnis pariwisata terhadap lingkungan.

2.    Untuk mengetahui dampak lingkungan dan ekonomi dalam masa pandemic Covid-19.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1.     Dampak dari Kegiatan Bisnis Pariwisata terhadap Lingkungan.    

Banyak teori dan contoh yang menunjukkan bahwa aktifitas wisata dapat peran yang signifikan dalam pembiayaan program-program konservasi lingkungan hidup. Namun, tetap harus diperhatikan bahwa aktifitas wisata juga mempunyai potensi untuk ikut serta mengarahkan pada kerusakan lingkungan (Hakim, Lukman :116).

            Para perencana pembangunan sering mengemukakan argumentasi bahwa untuk meningkatkan taraf perekonomian msyarakat sekitar hutan, dimana sebagian besar adalah kawasan lindung atau kawasan dengan tingkat keanekaragaman tinggi, para pemerhati lingkungan, konservasoinis, dan pihak-pihak pelestari lingkungan hidup melihat bahwa pembangunan yang akan dilakukan merupakan ancaman nyata terhadap keanekaragaman hayati  yang ada didalam atau sekitar kawasan yang akan dikembangkan (Beatley, 1997) (Hakim, Lukman :117).

            Lebih jauh, banyak peneliti yang menyebutkan bahwa pembangunan jalan raya mempunyai banyak pengaruh terhadap objek-objek wisata. Jalan raya menjadi ancaman bagi keaneka ragaman hayati disekitarnya, karena memberikan efek fragmentasi habitat, koridor bagi penyebaran hama, dan penyakit. Sesutau yang tidak kalah penting yaitu kejadian tertabraknya satwa oleh pengendara mobil atau jenis angkutan lainnya (Hakim, Lukman :118).

            Dampak wisata lainnya terhadap lingkungan yang dapat diamati dan dirakasan yakni masalah limbah. Limbah yang dihasilkan pengunjung menjadi masalah lingkungan yang dapat mempengaruhi kualitas daerah tujuan wisata. Hal itu mudah terjadi, dimana ukuran daerah tujuan wisata mempunyai ukuran yang kecil, limbah cair biasanya datang dari hotel , wisma dan restaurant yang tersebar pada destinasi wisata. Tidak dapat dihindari bahwa tempat-tempat tersebut merupakn bagian dari akomodasi ekotorisme. Namun, perhatian dan penanganan limbah cair yang dihasilkan seringkali sangat kurang. Untuk mengatasi populasi air yang terjadi, dua strategi yang umumnya ditempuh yaitu mereduksi sumber-sumber pencemar dan melakukan perlakuan terhadap limbah cair agar tidak dapat memhahayakan lingkungan (Hakim, Lukman :119).

 

            Pencemaran udara karena kesalahan penyelenggaraan wisata seringkali mengancam kesehatah manusia. Pencemaran udara sebagai dampak pengembangan industri pariwisata antara lain bersumber dari pembakaran gas dan terlepasnya bahan-bahan beracun diudara.

            Ada banyak bukti konsumsi sumber daya alam menjadi meningkat dan berlebih. Kebutuhan terserbut sering dipenuhi dengan eksploitasi bahan alam dari kawasan lindung, bambu, kayu-kayu bahan ukir, biji-bijian berkulit keras, tulang binatang, cangkang hewan-hewan laut, dan terumbu karang yang seharusnya dilindungi (Hakim, Lukman :121).

            Penyelanggara wisata yang tidak mengindahkan daya dukung lingkungan, juga menjadi faktor penyebab rusaknya terumbu karang di banyak kawasan. Selain tidak adanya manajemen yang jelas, lemahnya pengawasan hukum terhadap perilaku wisatawan merupakan faktor penyebab degradasi kawasan pesisir. Wasatawan seringkali memasuki dan berjalan-jalan di kawasan terumbu karang dalam waktu yang cepat (Hakim, Lukman :124).

Dampak-dampak dari kegiatan bisnis pariwisata terhadap lingkungan yaitu:

1.    Gangguan Ekosistem Kawasan Wisata.

Teori keseimbangan (Equilibrium theory) memendang bahwa ekosistem dijaga dalam sebuah keseimbangan di atas fondasi dan spesies-spesies dan penyusunnya. Dalam keseimbangan tersebut, spesies-spesies ada dan berinteraksi satu sama lain dalam hubungan predator-mangsa, serta dalam hubungan-hubungan kompetisi yang ada. Jadi, interaksi-imteraksi faktor biotik mendenterminasi struktur komunitas kahidupan dalam ekosistem. Pendekatan ini menciptakan sebuah ide tentang kesimbangan alam “ the balanced of nature” . Namun, keseimbangan ini dapat terganggu oleh sebab-sebab alamiah dan manusia.

Ketika terganggu, ekosistem bisa jadi kehilangan dan menurun atau mungkin hilang. Atau sebaliknya, mereka akan berusaha untuk mencapai keadaan awal sebelum gangguan terjadi sehingga mencapai keadaan seperti sedia kala, stabil atau pada keadaan klimaks.

Pantai sering mendapat tekanan hebat dari dampak pembangunan destinasi kawasan wisata pesisir. Pada dasarnya, istilah pantai digunakan untuk menggambarkan tempat pertemuan antara daratan dan lautan. Ekosistem terumbu karang merupakan salah satu ekosistem perairan laut yang produktif dengan kekayaan hayati spesies tinggi.

Kegiatan wisata di kawasan pesisir yang tidak dilakukan dengan tidak memperhatikan ekosistem setempat, biasanya menghancurkan ekosistem terumbu karang. Gangguan terhadap ekosistem dapat terjadi dengan cepat. Sebagai gambaran, laju perusakan bisa terjadi dalam satu hari karena tekanan wisatawan di zona terumbu karang. Sebaliknya, pemulihan ekosistem terumbu menuju kondisi seperti semula, memerlukan waktu yang lama. Laju pertumbuhan spesies karang yang masih diperkirakan tumbuhan antara lain adalah 7,5-13 mm/tahun pada jenis Asteropbora myroiphbalmia, 6,7-8,0 mm/tahun favia speciosa, dan 7,8 mm/tahun untuk Goniastrea retiformis (Supriharyono, 2000). Dengan demikian, melakukan proteksi wilayah terumbu karang dari pengaruh gangguan manusia menjadi sangat penting.

Sedimentasi menjadi ancaman nyata lainnya, bagi kehidupan terumbu karang dan kehidupan biota-biota lain yang ada disekitarnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa terumbu karang merupakan salah satu aset wisata bahari yang berperan penting dalam penerimaan dari sektor wisata. Namun, sedimenyasi yang terjadi terus-menerus akan menurunkan mutu terumbu karang bagi atraksi wisata yang ditawarkan.

Hal yang sama dapat terjadi juga di darat. Hutan tropik yang terganggu membutuhkan waktu yang lama untuk memulihkan kondisinya. Saat ini, laju penggundulan hutan tropik sangat menghawatirkan. FAO memberikan estimasi data bahwa kahilangan hutan tropik terjadi pada skala 110,5 juta ha per tahun. Jika laju ini tidak dapat dihentikan atau ditekan, maka dalam waktu dekat biosfer akan kehilangan hutan tropik dengan segala kekayaan hayati yang ada didalamnya (Hakim, Lukman :126-129).

2.    Dampak Terhadap Satwa Dan Kehidupan Liar.

Saat ini, pariwisata juga duketahui memberikan dampak terhadap satwa liar lainnya. Reynols dan Braithwaite (2001) mendeskripsikan bahwa aktifitas wisata yang dekat dengan habitat satwa liar, dapat mempengaruhi kehidupan liar. Pengaruh-pengaruh negatif tersebut antara lain:

1.      Pengambilan secara ilegal terhadap satwa dan kematian satwa

2.      Pembersihan habitat

3.      Perubahan komposisi tumbuhan

4.      Mengurangi produktifitas tumbuhan

5.      Mengubah struktur tumbuhan

6.      Polusi

7.      Emigrasi satwa

8.      Mengurangi daya reproduksi satwa

9.    Habituasi

10.  Munculnya perilaku stereotip

11.  Penyimpangan pola makan satwa

12.  Penyimpangan perilaku sosial

13.  Meningkatnya predasi

14.  Modifikasi pola-pola aktifitas, dan

15.  Mengubah struktur aktifitas.

Gangguan-gangguan terhadap satwa dapat terjadi karena tumbuhan sumber makanannya terganggu. Dan struktur komunitasnya, serta produtifitasnya. Burung-burung pemakan madu dan pemakan serangga lainnya akan hilang dari kawasan, karena tumbuhan pendukungnya menurun. Wisatawan dapat mengurangi produktifitas tumbuhan, seperti rumput dan herba karena terinjak-injak atau rusak. Atau karena alasan lain yang memungkinkan rendahnya produktifitas tumbuhan yang berperan terhadap satwa. Bibit-bibit tumbuhan yang eksotik memounyai peluang masuk,karena terbawa oleh manusia secara sengaja atau tidak sengaja.

Polusi menyebabkan tercemarnya sumber-sumber air yang digunakan satwa sehingga mempengaruhi kesehatan satwa dan banyak hal, dapat menyebabkan kematian karena keracunan. Selain itu, akumulasi sumber pencemar dapat menurunnya daya reproduksi satwa untuk berkembang biak. Polusi udara, terutama gangguan-gangguan suara dapat menggangu reproduksi,. Kedatangan pengunjung dan keributan-keributan yang ditimbulkannya sering menyebabkan satwa merasa tidak nyaman  adan memilih menyingkir dari habitatnyauntuk mencari habitat baru. Bagi bebrapa satwa, masa-masa pencarian habitat baru ini merupakan masa-masa penting, karena setiap saat harus menghadapi malapetaka predasi (pemangsaan oleh predatornya), atau kekurangan sumber daya makan.

Habituasi, munculnya perilaku stereotip, penyimpangan pola makan satwa, penyimpangan perilaku sosial, dan modifikasi pola-pola perilaku aktivitas merupakan dampak yang dapat muncul karena kontak yang sering terjadi antara satwa dan manusia. Dalam banyak hal, perilaku ini sangat merugikan satwa yang bersangkutan, karena dalam jangka waktu yang lama akan mengurangi daya hidupnya di alam bebas (Hakim, Lukman :130-132).

3.    Krisis Sumber Daya Air.

Dampak dari pembangunan sektor wisata terhadap sumber daya air telah diketahui secara nyata. Air adalah sumber daya penting, di mana manusia sangat bergantung. Air bersih merupakan kebutuhan mutak dan penurunan kualitasnya (karena pencemaran dan penurunan kuantitasnya, yakni karena berkurang debit aliran air) menjadi ancaman nyata bagi manusia.

Seringkali konflik antara pengelola industri wisata, terutama pemilik hotel, restoran, dan pengembang wisata lainnya malawan penduduk lokal akan muncul. Konflik yang sering terjadi menyangkut pengalihan tata guna air permukaan dan air tanah. Biasanya, pengalihan ini dapat terjadi karena pembelokan aliran air, yakni untuk kepentingan masyarakat lokal dan pertanian setempat menuju pemenuhan sumber daya air untuk hotel, restoran, dan kepentingan wisata lainnya.

Tidak semua kawasan destinasi wisata mempunyai sumber air yang bagus dan melimpah, beberapa kawasan, bahkan tidak mempunyai sumber air sama sekali, kalaupun ada, sungai yang terbentuk karena pengaruh hujan lebat dan besifat sesaat. Pada musim kemarau, sungai akan kering (Hakim, Lukman :132-133).

4.    Dampak Spesies Eksotik.

Berkembanya sebuah destinasi wisata membuka peluang terhadap tumbuh dan berkembangnya spesies-spesies eksotik. Wisatawan sering mengunjungi destinasi wisata dengan membawa makanan yang mengandung biji, umbi atau bagian lain yang dapat tumbuh. Spesies eksotik sering lepas dari pengawasan penegelola taman nasional, sampai kemudian keberadaanya diketahui sangat mengancam kestabilan ekosistem.

Potensi masuknya tumbuhan eksotik dapat terjadi karena permintaan terhadap lanskap pertamanan yang melengkapi destinasi wisata. Sebuah destiansi wisata, biasanya “dipercantik” dengan adanya tumbuh-tumbuhan berbunga indah atau mempunyai karakter indah lainnya. Yang umumnya dijumpai pada destinasi alami (Hakim, Lukman :136).

2.2    Dampak Lingkungan dan Ekonomi Pariwisata dalam Masa Pandemi Covid-19.

     1. Dampak Lingkungan

         Pariwisata pada umumnya adalah sebuah industri yang kelangsungan hidupnya sangat ditentukan oleh baik buruknya lingkungan dan sangat peka dalam kerusakan (Soemarwoto, 2001). Tanpa lingkungan yang baik tidak mungkin pariwisata berkembang. Namun dalam era Covid-19 berdampak juga pada cara hidup masyarakat. Adanya pandemi Covid-19 juga memberikan dampak pada lingkungan. Wabah covid-19 telah menimbulkan lebih dari dua juta kasus dan ratusan orang meninggal dunia. Dalam setiap negara juga mengunci dari negara lain untuk mengimbau masyarakat untuk tetap berada di rumah kecuali untuk keperluan mendesak. Efek pandemi Covid-19 ini memang merusak Kesehatan tubuh manusia, tetapi ada bahwa kondisi dampak lingkungan dalam era covid-19 semakin membaik seperti Air Sungai yang mulai terlihat jernih Kembali, tingkat polusi udara yang menurun dan langit yang terlihat cerah. Tidak adanya kemacetan di kota dan berkurangnya penggunaan kendaraan bermotor karena kebanyakan orang bekerja di rumah atau yang biasanya disebut Work From Home. Semua itu hasil dari pengurangan aktivitas harian yang dilakukan di setiap negara di seluruh dunia, mengurangnya polusi udara dan kemacetan itu juga efek dari Work From Home untuk mengurangi tingkat polusi. Efek dari Pandemi Covid-19 terhadap kondisi lingkungan mengajarkan masyarakat tentang bagaimana mengelola tempat yang layak huni. Baik itu saat ini maupun setelah wabah penyakit ini berlalu.

       Kegiatan pariwisata bahari terhenti. Dampaknya lautan juga mengalami penurunan polusi suara, sehingga menurunkan tingkat stres makhluk laut seperti ikan paus dan membuat biota laut dapat bermigrasi lebih tenang. Fenomena lainnya terlihat di kawasan Venesia, Italia. Tempat wisata air tersebut menjadi lebih bersih, kanal yang biasanya berwarna keruh terlihat jernih selama Pemerintah Italia menerapkan peraturan lockdown. Adanya kebijakan pembatasan sosial dan lockdown di beberapa negara juga berdampak positif bagi keanekaragaman hayati flora dan fauna. Berdasarkan laporan organisasi nirlaba Plantlife, berbagai jenis tanaman dan bunga terlihat tumbuh lebih banyak daripada biasanya. Efeknya, kehadiran hewan seperti burung, kupu-kupu, dan lebah di taman pun kian marak. Selain itu satwa yang terancam 15 punah seperti penyu jenis Olive Ridley di India dan penyu Belimbing di Florida dapat bertelur dengan bebas (Rudiyanto, 2020). Pandemi Covid-19 memberikan kesempatan untuk tumbuh lebih baik bagi flora dan memberikan ruang gerak yang lebih luas bagi satwa.

        Namun, kondisi pandemi ini berdampak pada meningkatnya timbulan sampah, terutama sampah plastik dan sampah medis. Di pulau Bali, dampak dari pandemi Covid-19 berimbas terhadap sektor pariwisata, yang secara langsung berkontribusi terhadap menurunnya volume sampah khususnya di daerah wisata. Menurut Gubernur Bali, Wayan Koster, permasalahan sampah merupakan masalah klasik bagi masyarakat Bali. Alam pulau Dewata rusak karena sampah. Terlebih sebagai daerah tujuan wisata, sampah juga dianggap sebagai momok (merdeka.com, 2021). Pandemi Covid-19 telah mempengaruhi sejumlah aspek kehidupan. Banyak negara mulai menerapkan sejumlah kebijakan untuk membatasi segala bentuk aktivitas (lockdown). Kebijakan lockdown ini membawa dampak nyata terhadap membaiknya kualitas udara khususnya di perkotaan.

        Dalam berbagai sudut pandang yang menimbulkan efek positif dan negative, bahwa dalam Pandemi Covid ini Lingkungan itu menjadi Recovery yang dimana alam akan menyembuhkan dirinya sendiri dan efek untuk dilihat oleh manusia bagus dan bisa digunakan lebih baik lagi untuk manusia.

     2. Dampak Ekonomi

         Peranan sektor pariwisata nasional semakin penting dilihat dari perkembangan dan kontribusi yang diberikan sektor pariwisata melalui penerimaan devisa, pendapatan daerah, pengembangan wilayah, maupun dalam penyerapan investasi dan tenaga kerja serta pengembangan usaha yang tersebar di berbagai pelosok wilayah di Indonesia. Sektor pariwisata mempunyai pengaruh terhadap perekonomian suatu negara melalui beberapa faktor. Pertama, sektor pariwisata sebagai penghasil devisa untuk memperoleh barang modal yang dipakai dalam proses produksi. Kedua, pengembangan pariwisata menstimulus pembangunan infrastruktur. Ketiga, pengembangan sektor pariwisata mendorong perkembangan sektor-sektor ekonomi lainnya. Keempat, pariwisata ikut berkontribusi terhadap peningkatan kesempatan kerja dan pendapatan. Kelima, pariwisata dapat menyebabkan positive economies of scale (Yakup, 2019). Pada industri pariwisata Indonesia, virus ini mulai memberikan dampak pada awal tahun 2020 yang mana banyak wisatawan membatalkan rencana perjalanannya terutama wisatawan mancanegara yang berasal dari negeri Cina di mana negara ini adalah asal muasal virus ini pertama kali terjadi. Bagi pelaku pariwisata, hal ini adalah pukulan yang sangat telak mengakibatkan hampir 90% karyawan dirumahkan. Keputusan ini sangat sulit dari sisi kemanusiaan, tetapi juga harus melihat realistas kondisi yang terjadi. Pemulihannya pun membutuhkan waktu yang cukup lama, apabila dilihat dari perekonomian Indonesia secara global, serta perekonomian pariwisata hingga minus dan banyaknya jumlah tenaga kerja yang dikeluarkan dari perusahaan, khususnya bagi Bali yang perekonomian dan penduduknya tergantung dari pariwisata. diperlukan strategi yang tepat baik itu dari pemerintah pusat maupun pemerintah. Bali untuk mengupayakan sektor pariwisata agar segera pulih dan berjalan normal kembali. Pelaku pariwisata di Indonesia harus optimis keadaan seperti ini segera cepat berakhir karena mayoritas penduduk indonesia menggantungkan hidupnya dari sektor ekonomi pariwisata, efek berantai ini mengakibatkan banyak sektor lumpuh.

 Berikuti ini beberapa usaha Pariwisata yang terkena dampak Covid-19 dalam sektor ekonomi.

1. Biro Perjalanan Wisata

Biro perjalanan Wisata adalah salah satu sektor yang terdampak langsung akibat virus corona ini yang mana banyak pembatalan rencana perjalanan wisata yang sudah diagendakan jauh hari sebelumnya, akhirnya dibatalkan karena adanya virus ini. Presentase pembatalan yang diakibatkan virus ini hampir menyentuh angka 100% yang mengakibatkan banyak biro perjalanan wisata juga seakan akan mati sepenuhnya dalam hal perekenomian dan terpaksa merumahkan keseluruhan karyawannya karena masih banyak beban juga yang harus ditanggung dari pembatalan rencana perjalananan yang diakibatkan dan juga masih banyak faktor finansial lain yang ditimbulkan akibat Covid-19. Hal ini mengalami keterpurukan bagi biro 75 perjalanan wisata yang ada di Bali mengingat beberapa Negara yang masih lockdown disamping juga bandara udara dan penerbangan ditutup.

2. Hotel

Sama halnya dengan penurunan jumlah wisatawan dan hampir nihil ini juga berdampak pada jumlah hunian kamar hotel. Hotel menjadi sektor yang paling parah juga dihantam oleh pandemi virus Covid-19 ini yang mana banyak hotel yang mengandalkan pendapatan dari kerjasama dengan biro perjalanan wisata. Dengan tidak adanya dukungan dari biro perjalanan wisata, hotel seakan akan lumpuh dari aktivitas pemesanan yang memberi sumbangan pendapatan hotel sebesar 60%. Sekarang ini banyak hotel yang sudah merumahkan hampir 99% karyawan tanpa gaji dan menutup operasional hotel sepenuhnya untuk memotong kerugian yang lebih banyak lagi akibat tidak adanya pemasukan dan tingkat okupansi hotel yang rendah dan tidak sebanding dengan pendapatan yang diterima dan pulih dengan segera.

 

3. Restoran/Rumah Makan

Restoran juga terkena imbas dari pandemi covid-19 ini yang mana banyak restoran yang terpaksa menutup operasional karena tidak adanya pembeli yang berkunjung akibat ditutupnya tempat tempat wisata di daerah masing masing, dengan tidak adanya dukungan dari biro perjalanan dan tempat wisata banyak restoran yang berpikiran realistis untuk menutup restoran miliknya.

4. Transportasi

Transportasi sangat berperan penting dalam aktivitas pariwisata, karena segala aktivitas dan perjalanan sangat membutuhkan transportasi baik itu lintas daerah dan antar negara. Perusahaan penerbangan, rental mobil dan transportasi umum apapun merupakan pihak yang sangat terpukul karena kejadian ini, mengingat sudah banyak agen perjalanan dan biro perjalanan wisata yang membatalkan semua agenda perjalanannya untuk mengunjungi suatu destinasi wisata mapun untuk tujuan yang beranekaragam lainnya. presentasi pembatalan sampai saat ini-Juni 2020 sudah mencapai 100%. Hal ini tidak bisa dihindari 77 karena banyak masyarakat yang juga takut akan penularan virus ini. Berkaca dari kejadian yang sedang terjadi banyak pengusaha rental mobil dan biro perjalanan wisata yang sedang kesusahan untuk membayar cicilan kendaraan yang masih tetap jalan sampai saat ini, ditutupnya perusahaan transportasi yang dikelola pihak swasta dan perusahaan penerbangan yang merumahkan hampir semua karyawannya, hal ini sudah tidak bisa terhindarkan.

5. Karyawan Pariwisata

Karyawan yang dimaksudkan disini adalah sumber daya manusia (SDM) yang berhubungan langsung dengan dunia pariwisata seperti karyawan travel agent, karyawan hotel, karyawan restoran, karyawan pusat oleh oleh, karyawan rental mobil, sopir, tour leader (TL), tour guide (TG) yang semuanya menggantungkan hidupnya kepada usaha usaha yang berhubungan langsung dengan industri pariwisata.

Dari beberapa penjelasan di atas, memang sudah tidak bisa dihindari lagi berbagai kondisi yang muncul, walaupun berbagai harapan bahwa kondisi ini bisa pulih kembali dan normal. Dalam artian wabah Covid-19 ini segera berakhir.

BAB III

PENUTUP

3.1   Kesimpulan

1. Keindahan dan kenyamanan daerah tujuan wisata, seperti keindahan pemandangan alam, sturuktur hidrologi almiah seperti air terjun dan sungai, air bersih, udara segar, dan keanekaragaman spesies, kuailitasnya bisa memburuk karena aktifitas manusia, tidak terkecuali aktifitas wisata itu sendiri. kualitas lingkungan merupakan bagian integral dari suguhan-suguhan alamiah. Dengan demikian, pemeliharaan terhadap kualitas lingkungan menjadi syarat mutlak bagi daya tahan terhadap kompetisi pemilihan tujuan wisata oleh wisatawan. Jika kualitas suatu daerah tujuan wisata menurun, maka tempat tersebut cenderung diabaikan. aktifitas wisata dapat peran yang signifikan dalam pembiayaan program-program konservasi lingkungan hidup. Namun, tetap harus diperhatikan bahwa aktifitas wisata juga mempunyai potensi untuk ikut serta mengarahkan pada kerusakan lingkungan.

2. Dalam masa Pandemi Covid-19 menimbulkan berbagai dampak positif dan negatif. Dalam dampak positif bahwa alam menjadi recovery yang membuat alam itu menjadi healing/menyembuhkan dirinya tersebut yang akan bisa dinikmati oleh manusia. Dalam segi Pariwisata Ekonomi yang mengalami keterpurukan harus segera ditangani oleh pemerintah untuk mengurangi jumlah angka pengangguran dan kemiskinan.

3.2   Saran

Dalam pariwisata diperlukan adanya pengendalian diri dalam meminimalisir dampak dari aktifitas wisata, peningkatan dalam menjaga kualitas lingkungan yang dilaksanakan oleh pengelola pariwisata. peningkatan konservasi lingkungan hidup yang dilaksanakan oleh pihak-pihak yang terkait. Dan diharapkan Pariwisata dalam Pandemi ini bisa menerapkan protokol Kesehatan baik itu dari masyarakat dan pemerintah agar pariwisata bisa pulih Kembali.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ridwan, Mohammad.2012. Perencanaan Pariwisata dan Pengembangan Pariwisata, Medan Polonia:PT.

Yoeti, Okta A. 1985. Pemasaran Pariwisata. Bandung, Angkasa.

Yoeti, Okta A. 1996. Pengantar Ilmu Pariwisata. Bandung, Angkasa.

Yoeti, Okta A. 1982. Perencanaan Strategi Pemasaran Daerah Tujuan Wisata, Jakarta: PT. Pradnya Paramita.Sofmedia

Darma, I Gusti Ketut Indra Pranata & Kristina Ni Made Rai. (2020). “Pemulihan Fungsi Alam Pariwisata Ditengah Pandemi Covid-19”. Khazanah Ilmu: Jurnal Pariwisata dan Budaya, 11(2), 101 – 108.

A.A.A Ribeka Martha Purwahita , Putu Bagus Wisnu Wardhana , I Ketut Ardiasa , I Made Winia. (2021) . “Dampak Covid-19 Terhadap Pariwisata Bali Ditinjau Dari Sektor Sosial, Ekonomi, Dan Lingkungan”. JKTP: Jurnal Kajian dan Terapan Pariwisata, 1 (2), 68-80.

Kadafi, Moh. (2021). “Wayan Koster Akui Alam Bali Rusak Karena Sampah”. Berita (online), Edisi 20 Maret 2021.

https://pemasaranpariwisata.com/2019/11/21/dampakpariwisata/

http://lomboktengahkab.go.id/dinas-pariwisata/

http://wisatalombokaja.blogspot.co.id/2013/12/tempat-wisata-di-pulau-lombok-yangindah.html

.

 

 

 

Komentar

  1. Borgata Hotel Casino & Spa - JetBlue
    Get the best 전주 출장마사지 deals on 남양주 출장샵 Borgata 김제 출장마사지 Hotel Casino & Spa - JetBlue - 계룡 출장마사지 deal 구리 출장안마 and discounts with JetBlue - JetBlue - JetBlue - hotel booking online.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini